Slogan
Dibuang Tetapi Tidak Hilang
Introduksi
GITJ PURING
A. Awal Peristiwa ( 1912 -1915 )
GITJ Puring dirintis sekitar tahun 1912. Bermula dari orang-orang yang terkena tindakan disiplin dari koloni Margokerto yang ditetapkan oleh zending. Mereka bersekutu ditambah beberapa warga setempat yang menyatakan diri sebagai orang Kristen.
Jemaat Puring mula-mula terdiri dari 8 keluarga Tro Bajang, Mugi, Mopaiman Bariyo, Towipo, Wirosonto,. Reso Sarijan, dan Senggring.
Pada awal perintisan ini gereja dilayani dari Gereja Kedung Penjalin yaitu Bapak Markus dan Bapak Martin.
Tempat ibadahnya lebih kurang 50 m sebelah barat Masjid Puring bagian timur di utara jalan, suatu rumah soko wolu berukuran 4 x 8 m yang beratapkan welit dan berdinding bambu.
Tempat ibadah ini juga dipergunakan sebagai sekolah rakyat pada hari-hari biasa (hari Senin – Sabtu ).
Sebagai merbot/kosternya pada saat itu yaitu Bapak Paiman.
B. Masa-masa Sulit (1915 – 1965)
Pada tahun 1915 jemaat kelompok Puring diserahkan pelayanannya dari Kedung Penjalin kepada GITJ Margokerto. Yang melayani pada waktu itu Bapak Ezrom dari Margokerto dibantu Bapak Isai dan Bapak Warsono.
Pada tahun 1930 tempat ibadah dipindahkan ke Puring bagian barat yaitu di lokasi Gedung Gereja saat ini dibangun.
Tak berapa lama bangunan tempat ibadah diganti dengan rumah soko wolu ukuran 4 x 8 m yang beratapkan genting dan dinding terbuat dari bilik bambu. Rumah tersebut dibeli dari Sari Jemblung desa Bondo.
Sesudah pelayanan Bapak Ezrom, pelayanan diganti oleh putranya Bapak Simeon hingga tahun 1965.
Sejak + tahun 1930 – 1965 merbotnya adalah sebagai berikut : Bapak Bariyo, Bpk. Suwito, Bpk. Kasiran, Bpk. Mardi dan dilajutkan oleh Bapak Sapijan.
Tahun 1915 – 1965 Gereja sangan sulit berkembang bahkan setelah dipindah ke bagian barat jemaat mengalami penyusutan.
Terlebih + tahun 1942 pada jaman Jepang masuk pulau Jawa situasi bertambah sulit. Gereja dijarah, bahkan bangku, meja, mimbar dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Tetapi setelah ada pengumuman dari pemerintah pada saat itu bahwa orang-orang yang telah menjarah harus mengembalikan barang jarahannya. Barang-barang gereja yang telah hilang dapat diketemukan kembali walau sudah tidak utuh lagi.
Sungguh sejak tahun 1915-1965 Gereja kelompok Puring nyaris tidak mengalami kemajuan.
C. Masa-masa Berkembang (1965 – 1991)
Tahun 1965 merupakan pertumbuhan yang sangat subur. Tahun 1965 Bpk. Madi, Bpk. Pranoto dan Bpk. Sumono ditugaskan dari GITJ Margokerto sebagai Guru Sekolah Minggu di kelompok Puring. Karena kebutuhan akan tenaga pelayanan, Bpk. Sumono dipilih oleh jemaat kelompok Puring sebagai Pelayannya. Sejak saat itu Bpk. Sumono secara resmi menjadi pelayan tetap di GITJ Puring.
Perubahan politik pada tahun 1965 yaitu sejak peristiwa G 30 S PKI jemaat mengalami pertumbuhan sangat pesat. Pada saat pemerintah menetapkan peraturan bahwa seluruh rakyat Indonesia diharuskan menganut agama salah satu dari agama yang ditetapkan oleh pemerintah. Banyak orang-orang yang masuk menjadi anggota gereja.
Mengingat jumlah warga jemaat mengalami peningkatan yang cukup besar tempat ibadah yang semua tidak penuh kini tidak dapat menampung warganya, sehingga jemaat kelompok Puring yang diprakarsai Bapak Sumono dan Bapak Sunar sebagai ketua pengurus kelompok Puring merintis pembangunan gedung gereja yang dimulai pada tahun 1967, dan pada bulan Desember 1969 gedung gereja itu telah dapat dipergunakan untuk perayaan Natal. Gedung ini merupakan bangunan yang ke III sebagai tempat ibadah jemaat GITJ Puring. Gedung tersebut berukuran 7 x 18 m. Pada tanggal 6 Februari 1974 Bapak Sumono ditahbiskan sebagai Guru Injil di GITJ Margokerto bersama-sama dengan Bapak Leksono. Bapak GI Sumono tetap ditugaskan untuk melayani di kelompok Puring. Karena jemaat banyak mengalami kemajuan, maka atas permohonan jemaat Puring dan persekutuan GITJ Margokerto, pada tanggal 30 Oktober 1980 didewasakan. Bapak Sumono melayani hingga tanggal 1 Februari 1993. Dan sebagai merbot pengganti Bapak Sapijan yaitu Bapak Sujai hingga saat ini.
D. Jemaat GITJ Puring Sekarang
Tanggal 1 Agustus 1992 Bapak Herlistyana, S.Th ditetapkan sebagai calon pelayan menggantikan Bapak GI Sumono. Pada tanggal 1 Februari 1993 secara resmi ditetapkan sebagai Gembala Jemaat di GITJ Puring. Gereja terus mengalami kemajuan, pada tahun 1993 – 1994 gedung gereja yang dibangun pada tahun 1967 – 1969 direnovasi tembok samping kiri dan samping kanan serta kusen-kusennya diperbaharui serta penataan teras samping kiri dan kanan.
Pada hari Jum’at Kliwon tanggal 30 Juni 1995 Bapak Herlistyana, S.Th. ditahbiskan sebagai Pendeta Jemaat di GITJ Puring. Pada tahun 1996 GITJ Puring membangun rumah Pastori (Rumah Kapanditan).
Pertumbuhan jumlah jemaat terus mengalami peningkatan sehingga gedung gereja sudah tidak mampu menampung jemaat yang hadir. Oleh karena itu dalam rapat-rapat jemaat diusulkan program pembangunan jangka panjang, yaitu pembangunan gedung gereja yang lebih besar dan yang dapat menampung warga jemaat yang hadir dalam kebaktian.
Pada tahun 1998 jemaat telah berkembang menjadi 100 kepala keluarga dengan jumlah anak-anak dan dewasa + 425 jiwa. Pada tahun 1998 pembangunan jangka panjang tahap I dimulai yaitu berupa pembangunan awal yang terdiri dari konsisturi dan bagian mimbar dari gedung gereja sekarang. Pembangunan tersebut dipimpin oleh Bapak Hardoyo dan rekan-rekan.
Pembangunan tahap I berukuran 10 x 7 m. Pada tahun 1999 Gereja membangun 2 kamar mandi, kamar guru TK dan tempat belajar murid-murid TK.
Pada tahun 2000 Gereja membangun pagar depan. Pada tahun 2001 tepatnya pada tanggal 1 Juli 2001 pembangunan jangka panjang dilajutkan kembali di bawah pimpinan Bpk. Hardoyo dan rekan-rekan, yaitu meneruskan pembangunan jangka panjang tahap pertama. Pembangunan ruang jemaat yang berukuran 12 x 21 m, ini merupakan tahapan yang ke II.
Pada tahun 2002 pembangunan tahap III. Yaitu menyelesaikan pembangunan tahap II. Pembangunan ini dipimpin oleh Bapak Darsono sebagai komisi pembangunan dan beberapa majelis, hingga rampung seperti sekarang ini. Jadi Gedung Gereja yang saat ini berdiri adalah merupakan bangunan tempat ibadah GITJ Puring yang ke IV.
DRAF PROFILE GEREJA GITJ
1. Nama Gereja
2. Alamat
3. Tahun Dewasa
4. Sejarah Singkat Berdirinya Jemaat : Terlampir
5. Jumlah Warga Gereja :
5.1. Warga Baptisan
5.2. Warga Belum Baptis : laki-laki : 156 jiwa, Perempuan : 117 jiwa
5.3. Jumlah Pemuda/Remaja : 67 jiwa
5.4. Jumlah Anak Sekolah Minggu : 102 jiwa
5.5. Jumlah Kepala Keluarga : 156 KK
6. VISI dan MISI
Visi :
“Membangun Komunitas Damai Sejahtera”
Misi :
1. Berupaya Membangun Kerukunan dengan Allah, dengan Diri Sendiri, dengan Sesama, dan dengan Alam.
2. Mengupayakan Kesejahteraan secara Rohani dan Jasmani.